
FaktaBanua.my.id, Kasarangan – Seorang anak perempuan berusia lima tahun meninggal dunia secara tragis diduga tenggelam, membuat hati seluruh warga Desa Kadundung teriris dan diliputi kesedihan yang mendalam. Suasana yang biasanya riang dengan suara tawa anak-anak, seketika berubah sunyi dan penuh tangis menyayat hati.
Peristiwa yang menyayat hati itu terjadi pada Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 12.30 Wita, di wilayah RT 06 RW 03, Desa Kadundung, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Lokasi kejadian berjarak tidak jauh dari pemukiman warga, di mana aliran sungai yang melintasi desa itu kini berubah menjadi ancaman maut.
Korban diketahui berinisial RAP, buah hati orang tua tercinta yang baru menginjak usia lima tahun, tumbuh besar di tengah kasih sayang keluarga dan selalu menjadi tawa ceria di lingkungan tempat tinggalnya. Setiap hari kehadirannya menjadi penghibur bagi tetangga dan kerabat, membuat kepergiannya terasa begitu cepat dan tak terduga.

Hari itu, suasana berjalan seperti biasa, hingga ibu korban berniat memasak di rumah kakek yang letaknya persis berada di seberang jalan, sehingga si kecil ditinggal sendirian sejenak di dalam rumah tanpa pendampingan.
Sang ibu mengira waktunya hanya sebentar dan anaknya akan tetap diam bermain di dalam, tanpa menyadari bahaya sedang mengintai. Tak disangka, saat sang ibu kembali melangkah masuk ke dalam rumah, putri kesayangannya tak lagi terlihat di tempat semula.
Hati seorang ibu seketika berdebar kencang, rasa cemas menyelimuti, dan ia segera berteriak memanggil serta meminta bantuan kerabat dan warga sekitar untuk ikut mencari. Jeritan panik sang ibu terdengar hingga ke ujung desa, membuat warga berhamburan keluar rumah untuk membantu.
Pencarian dilakukan dengan tergesa-gesa ke segala arah, menyusuri setiap sudut halaman dan jalan setapak di sekitar pemukiman, hingga akhirnya mata warga tertuju ke arah tepian sungai yang tak jauh dari rumah. Di sana, tubuh mungil si kecil ditemukan terlungkup di dalam aliran air yang sedang meluap deras akibat hujan deras yang turun berhari-hari.
Air sungai yang keruh dan berarus kencang saat itu bagaikan raksasa yang tak terlihat, diam-diam membawa bahaya dan merenggut nyawa anak polos dalam sekejap mata. Bagi warga setempat, sungai itu memang sudah menjadi bagian hidup, namun saat musim hujan tiba, ia bisa berubah menjadi pembawa duka yang tak kenal belas kasihan.
Warga yang menemukan langsung terperanjat dan menangis melihat kondisi tubuh anak itu, yang sudah tak berdaya terhanyut sedikit oleh arus air. Mereka segera turun dan mengangkat tubuh mungil itu ke tepi, berusaha melakukan pertolongan seadanya sembari berharap ada tanda-tanda kehidupan masih tersisa.
Dengan tangan gemetar dan hati hancur berkeping-keping, ibu korban bersama warga segera mengangkat tubuh si kecil dan bergegas membawanya menuju Puskesmas Pantai Hambawang, berharap masih ada setitik harapan agar nyawanya bisa diselamatkan. Sepanjang perjalanan, isak tangis dan doa terus terucap dari mulut setiap orang yang ikut mengantar, namun nasib berkata lain. Namun takdir berkata lain. Begitu tiba di fasilitas kesehatan dan diperiksa oleh tenaga medis, napas mungil itu telah berhenti selamanya, meninggalkan isak tangis dan ratapan yang tak terkatakan dari orang-orang yang mencintainya.

Para tenaga medis pun hanya bisa menggelengkan kepala dan ikut merasakan kepedihan yang sama, menyadari bahwa usaha mereka tak lagi bisa menyelamatkan nyawa sang anak.
Berita meninggalnya anak ini menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru desa, membuat warga berdatangan ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan semangat bagi keluarga yang sedang berduka. Suasana di sana dipenuhi kesedihan, tak ada kata yang mampu menggambarkan betapa beratnya perasaan orang tua yang harus melepaskan anak kesayangannya untuk selamanya.
Peristiwa memilukan ini segera mendapat perhatian aparat setempat. Kapolsek Labuan Amas Utara AKP Ahmad Priadi beserta anggotanya, serta jajaran Koramil 1002-08/Labuan Amas Utara yang dipimpin Kapten Inf Rudi Hartono, segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan, pendataan dan penanganan sesuai prosedur.
Mereka datang tidak hanya untuk bertugas, tetapi juga ikut merasakan duka yang melanda masyarakat di wilayah jagaannya. “Keluarga telah ikhlas dan menerima kejadian ini sebagai musibah yang tak terelakkan, serta menyatakan keberatan jika dilakukan tindakan otopsi. Setelah seluruh keterangan dan data tercatat lengkap, seluruh personel kembali ke pos masing-masing,” ujar AKP Ahmad Priadi dengan nada yang turut berduka cita mendalam.
Kapolres Hulu Sungai Tengah AKBP Jupri JHP Tampubolon juga ikut merasakan kepedihan dan menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga. Beliau menyebutkan bahwa kejadian ini adalah hal yang sangat menyedihkan dan menjadi perhatian serius bagi seluruh jajaran kepolisian di wilayahnya. “Jangan pernah membiarkan anak-anak bermain atau berjalan sendirian, apalagi mendekati aliran air, sungai atau selokan, dan larang mereka untuk bermain air saat debit air sedang tinggi dan meluap, sebab bahaya selalu mengintai di tempat yang tak disangka-sangka,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, bahwa pengawasan orang tua adalah kunci utama keselamatan anak, terlebih di wilayah pemukiman yang berdekatan langsung dengan aliran sungai. Satu detik saja kelalaian, bisa berakibat fatal dan menimbulkan duka yang tak akan bisa terobati seumur hidup. Tidak hanya dari kalangan aparat, para tokoh masyarakat dan pemuka agama di desa juga ikut menyampaikan pesan yang sama, agar seluruh warga semakin waspada dan saling mengingatkan satu sama lain.
Mereka berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga dan tak akan terulang kembali di masa depan. Selain itu, kondisi cuaca yang sering membawa hujan deras dalam beberapa waktu terakhir membuat debit air sungai terus naik dan aliran menjadi lebih deras dari biasanya. Hal ini menjadi perhatian bersama, agar setiap keluarga benar-benar menjaga anak-anak dan tidak membiarkan mereka beraktivitas di dekat tepian sungai tanpa pendampingan orang dewasa.

Banyak warga yang mengaku sedih dan terguncang, mengingat korban adalah anak yang masih sangat kecil dan belum sempat merasakan indahnya dunia. Mereka berdoa semoga arwah anak yang tak berdosa itu diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa dan ditempatkan di tempat yang paling indah. Musibah ini menjadi pengingat paling pedih bagi seluruh masyarakat, bahwa kewaspadaan dan pengawasan penuh adalah benteng terkuat untuk melindungi nyawa anak-anak, agar tak ada lagi air mata dan duka yang harus tercurah di tepian sungai.
Semoga kepergian sang anak menjadi pelajaran berharga dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan, serta semangat bagi seluruh warga untuk saling menjaga dan melindungi. (Fb)



