Musda LPTQ HST 2026 Fokus Bangun Masyarakat Berbasis Al-Qur’an dengan Niat yang Lurus
BARABAI, HST – Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah (HST) Gusti Rosyadi Elmi menyatakan bahwa Musyawarah Daerah (Musda) Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten HST Tahun 2026 bertujuan membangun masyarakat religius, lestari, dan bermartabat melalui nilai-nilai Al-Qur’an dengan menekankan pentingnya meluruskan niat dalam setiap amal.
Kegiatan berlangsung pada Minggu (15/2/2026) atau 27 Sya’ban 1447 Hijriah di Auditorium Sekretariat Daerah Kabupaten HST, menghadirkan berbagai tokoh termasuk Kepala Kantor Kementerian Agama, Ketua MUI, Kabag Kesra, Camat se-Kabupaten, Kepala KUA, dan pengurus LPTQ setempat.
Acara ini menjadi momentum untuk pengaturan ulang kepengurusan setiap lima tahun serta pembukaan resmi kegiatan yang diakhiri dengan bacaan Basmalah bersama.
LPTQ bukan hanya berfokus pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) sebagai sarana syiar, melainkan memiliki ruang lingkup yang lebih luas. Lembaga ini dituntut untuk mensyiarkan dan mensosialisasikan pentingnya Al-Qur’an serta mendekatkan umat kepada kitab suci tersebut dengan berbagai metode yang efektif.
Menurut Wakil Bupati, kondisi keterhubungan masyarakat dengan Al-Qur’an saat ini masih sangat memprihatinkan. “Sesungguhnya umatku telah menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang mahjur,” ujarnya mengutip firman Allah yang diriwayatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Data survei menunjukkan sebagian besar masyarakat jarang membaca mushaf Al-Qur’an secara rutin, bahkan hanya sebagian kecil yang melakukannya setiap hari. Bahkan di kalangan pelajar, kondisi tidak lebih baik. Dari 3.600 siswa SMP se-HST yang disurvei, sekitar 1.200 siswa belum mampu membaca Al-Qur’an. “Aib banget kalau sampai SMP tidak bisa baca Qur’an. Aib,” tegasnya.
Masalah ini tidak terbatas pada sekolah umum atau agama, melainkan menjadi tanggung jawab bersama sebagai umat muslim. Meskipun upaya penanggulangan buta huruf Al-Qur’an melalui program seperti BKPRMI telah menunjukkan hasil dengan perkiraan 80% masyarakat Barabai mampu membaca Al-Qur’an, tantangan selanjutnya adalah membiasakan membaca secara berkala.
Bahkan di kalangan PNS dan peserta majelis taklim, tingkat kepatuhan untuk membaca Al-Qur’an setiap hari masih sangat rendah. Wakil Bupati juga mengungkapkan hubungan antara kesalehan dengan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, kemiskinan dan kekayaan bukan menjadi masalah utama jika diimbangi dengan iman yang kuat. Pemerintah Kabupaten HST tetap serius mengentaskan kemiskinan melalui program bedah rumah sebanyak 1.000 unit per tahun dengan sistem penilaian yang transparan dan berfokus pada yang paling membutuhkan.
Ia menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan utama, bukan hanya sebagai pelengkap kajian lain. “Ajari anakmu untuk mencintai Al-Qur’an,” ujarnya mengingatkan pesan Rasulullah. Selain itu, ia menegaskan bahwa niat menjadi kunci utama dalam setiap aktivitas, termasuk dalam pengembangan Al-Qur’an.
Hadis “Innamal a’malu binniyat” disebut para ulama sebagai separuh agama, karena menentukan kualitas amal di sisi Allah.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengingatkan agar perlombaan MTQ tidak mencederai esensi keimanan dan kebersihan Al-Qur’an. Aturan baru telah diterapkan untuk mencegah konflik kepentingan, seperti larangan juri menilai jika ada keluarga atau binaannya yang tampil.
Praktik menyogok dan manipulasi nilai harus ditinggalkan agar keberkahan Al-Qur’an tetap terjaga. Setiap individu juga diminta untuk secara rutin memohon kepada Allah agar niatnya selalu lurus, karena pada akhirnya setiap orang akan bertanggung jawab atas amalnya sendiri di hari hisab. ( hazizi )
